Ketika ekonomi di Eropa mulai sulit dan pasar hampir mustahil untuk
diprediksi, ide bahwa klub sepakbola adalah investasi yang cemerlang pun
menjadi lebih signifikan. Di tahun 2003, Ken Bates, saat itu bos dari
Chelsea FC, menjual klub yang dimilikinya secara mayoritas ke seorang
pengusaha minyak dari Rusia yang berniat untuk terjun dan ambil bagian.
Melalui
tahap takeover saham rumit, yang bila dijabarkan akan membuat
Anda pusing, akhirnya Roman Abramovich memiliki saham lebih dari 90%
sehingga bisa duduk di kursi pemilik Chelsea. Hal yang pertama dia
lakukan adalah membentuk tim marketing, serta membuat staf Chelsea
lembur siang dan malam. Abramovich ingin menjadikan Chelsea sebuah klub
yang mempunyai gaung di persepakbolaan global. Teriakan “Chelsea!
Chelsea!” ingin didengarnya di seluruh penjuru dunia. Ambisi Abramovich
bukan sekadar omong kosong. Jose Mourinho, seorang
pelatih muda dari Portugal yang meraih kesuksesan Eropa tertinggi dengan
memuncaki
Liga Champions dengan FC Porto di tahun 2004, memunculkan rasa penasaran Abramovich. Jika Abramovich penasaran akan suatu hal, dia akan membelinya. Ketika uang tak menjadi halangan, Chelsea memboyong sejumlah pemain berkelas dunia untuk menghuni skuat yang diarsiteki Mourinho ini. Chelsea sudah punya Hernan Crespo, Adrian Mutu, Juan Sebastian Veron, dan Claude Makalele dari era Claudio Ranieri.
Liga Champions dengan FC Porto di tahun 2004, memunculkan rasa penasaran Abramovich. Jika Abramovich penasaran akan suatu hal, dia akan membelinya. Ketika uang tak menjadi halangan, Chelsea memboyong sejumlah pemain berkelas dunia untuk menghuni skuat yang diarsiteki Mourinho ini. Chelsea sudah punya Hernan Crespo, Adrian Mutu, Juan Sebastian Veron, dan Claude Makalele dari era Claudio Ranieri.
Lalu kemudian Damien Duff yang sempat jadi transfer termahal dengan
banderol 17 juta poundsterling. Tim hebat dengan pemain berkualitas.
Musim berikutnya, 2004-2005, Abramovich menggelontorkan jumlah yang tak
sedikit untuk mendatangkan pilar FC Porto Ricardo Carvalho dan Paulo
Ferreira. Juga salah satu kiper muda terbaik pada saat itu, di diri Petr
Cech. Untuk menambah pundi gol musim itu, Dider Drogba dari
Marseille dan Arjen Robben serta Mateja Kezman dari PSV. Hasilnya?
Setelah gagal juara bersama Ranieri, Chelsea sukses meraih dua gelar
Premier League secara berurutan. Impresif. Setidaknya, hasil akhir di
musim pertama bersama Mourinho memberikan
sedikit senyuman di wajah Abramovich. Dia, Mou, dan pemain-pemain
Chelsea berhasil memberikan gelar juara Liga Inggris untuk pertama
kalinya dalam 50 tahun. Subsidi dari Rusia terus berlangsung demi
memuaskan sang Tsar yang haus gelar. Selama kepemimpinan Abramovich,
Chelsea telah mengantongi 3 gelar juara Premier League, 4 Piala FA, dan
menjadi klub London pertama yang meraih gelar Liga Champions.
Tak
hanya itu, Chelsea menjadi salah satu klub paling dikenal di dunia
dengan nilai hingga 470 juta poundsterling. Mungkin Chelsea tanpa
Abramovich tak bisa dibilang klub yang jelek.
Tapi, Chelsea dengan Abramovich adalah suatu klub dengan level yang jauh
berbeda.




0 Comment:
Posting Komentar